Pengertian Strategi Belajar

Pada dasarnya, tidak ada strategi belajar yang paling ideal. Masing-masing strategi mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri. Hal ini sangat bergantung pada tujuan yang hendak dicapai, pengguna strategi (guru), ketersediaan fasilitas, dan kondisi siswa.

Proses belajar akan lebih efektif jika guru mengkondisikan agar setiap siswa terlibat secara aktif dan terjadi hubungan yang dinamis dan saling mendukung antara siswa satu dengan siswa yang lain.

Strategi belajar mengacu pada perilaku dan proses-proses berpikir yang digunakan oleh siswa dalam mempengaruhi hal-hal yang dipelajari, termasuk proses memori dan metakognitif. Michael Pressley menyatakan bahwa strategi ini adalah operator-operator kognitif meliputi dan terdiri atas proses-proses yang secara langsung terlibat dalam menyelesaikan suatu tugas (belajar).

Strategi belajar tersebut merupakan strategi-strategi yang digunakan siswa untuk memecahkan masalah belajar tertentu. Untuk menyelesaikan tugas belajar siswa memerlukan keterlibatan dalam proses-proses berpikir dan perilaku, membaca sepintas judul-judul utama, meringkas, dan membuat catatan, di samping itu juga memonitor jalan berpikir diri sendiri.

Nama lain untuk strategi tersebut adalah strategi kognitif, sebab strategi tersebut lebih dekat pada hasil belajar kognitif daripada tujuan-tujuan belajar perilaku.

Norman juga memberikan argumen yang kuat tentang pentingnya pengajaran strategi. Pengajaran strategi belajar berlandaskan pada dalil bahwa keberhasilan belajar siswa sebagian besar bergantung pada kemahiran untuk belajar secara mandiri dan memonitor belajar mereka sendiri. Ini menjadikan strategi tersebut mutlak diajarkan kepada siswa secara tersendiri, mulai dari kelas-kelas rendah sekolah dasar dan terus berlanjut sampai sekolah menengah dan pendidikan tinggi.

Tujuan utama pengajaran strategi belajar menurut Wienstein dan Meyer adalah mengajarkan siswa untuk belajar atas kemauan dan kemampuan diri sendiri. Merupakan hal yang aneh apabila kita mengharapkan siswa belajar, namun jarang mengajarkan mereka tentang belajar.

Kita mengharapkan siswa untuk memecahkan masalah, namun tidak mengajarkan mereka tentang pemecahan masalah. Dan sama halnya, kita kadang-kadang meminta siswa mengingat sejumlah besar bahan ajar, namun jarang mengajarkan mereka seni menghafal.

Sekarang saatnya membenahi kelemahan tersebut. Waktunya untuk mengembangkan ilmu terapan tentang belajar, pemecahan masalah dan memori. Kita perlu mengembangkan prinsip-prinsip umum tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana memecahkan masalah, mengemasnya dalam bentuk pelajaran yang siap diterapkan, dan kemudian memasukkan metode-metode ini dalam kurikulum.

Siswa yang dapat belajar atas kemauan dan kemampuan diri-sendiri dengan strategi belajar tertentu dikatakan sebagai pembelajar mandiri. Menurut Arends, pembelajar mandiri (self regulated learner) adalah pembelajar yang dapat melakukan empat hal penting, yaitu:

1. Secara cermat mendiagnosis suatu situasi pembelajaran tertentu.

2. Memilih suatu strategi belajar tertentu untuk menyelesaikan masalah belajar tertentu yang dihadapi.

3. Memonitor keefektifan strategi tersebut.

4. Cukup termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar tersebut sampai masalah tersebut terselesaikan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Apa yang Anda tulis adalah hasil dari pola pikir Anda.

 
Konsultasi Belajar. Design by Wpthemedesigner. Converted To Blogger Template By Anshul Tested by Blogger Templates.